Big Ad

header catatan kang hamdan

Perjalananku Sebagai Seorang Guru

perjalanan sebagai seorang guru

Entah karena kedua orang tuaku dua-duanya berprofesi sebagai guru, sehingga gen yang mengalir dalam diriku untuk menjadi guru sangat besar. Atau mungkin karena pilihan atau kebetulan saja saya menjadi guru, jujur saya nggak tahu. Yang pasti perjalananku sebagai seorang guru dimulai sejak kelas 3 (tiga) Madrasah Tsanawiyah. Saat itu saya hanya membantu ayah saya yang mengajar di sekolah non formal, yaitu di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA). Di sela-sela ayah saya berhalangan untuk mengajar, saat itulah saya mengisi kekososngan di kelas.

Sejak Duduk di Bangku MTs Sudah Mengajar

Secara basic saya sudah diajarkan  ayah saya bagaimana cara mengajar, sejak saya duduk dibangku kelas 3 (tiga) Madrasah Tsanawiyah (MTs). Sejak duduk di bangku MTs saya sudah mengajar sebagai guru piket, pengganti ayah saya jika beliau berhalangan hadir. Baru setelah saya duduk di kelas 1 SMA, saya dipercaya oleh ayah saya--yang kebetulan menjabat kepala sekolahnya--menjadi guru yang diberi jadwal tetap selama tiga hari.

Karena sudah memiliki jadwal mengajar yang tetap selama tiga hari dalam seminggu, jadi jika ada jadwal mengajar, maka setiap selesai belajar di SMA, saya langsung pulang. Tidak punya kesempatan untuk bermain bersama teman-teman, atau mengikuti kegiatan lainnya. Saya harus bisa mengatur jadwal ekskul yang saya ikuti dengan jadwal mengajar di madrasah. Namun, ketika masuk ke kelas 3 (tiga) SMA, saya harus pindah sekolah ke Madrasah Aliyah (MA). Selain tempat sekolahnya yang sangat dekat dengan rumah, ditambah tidak ada eskul yang saya ikuti, waktu untuk mengajar semakin luas. Akhirnya beban mengajar saya ditambah menjadi 4 (empat) hari.

Baru ketika saya masuk perguruan tinggi untuk melanjutkan kuliah, beban mengajar saya di MDTA dikurangi, dari 4 (empat) hari menjadi 2 (dua) hari saja. Hal ini mengingat tempat kuliah yang berada jauh di Bandung, sementara tempat mengajar di Sukabumi. Untuk bisa mengajar di MDTA, saya selalu pulang dari Bandung setiap hari Kamis, kemudian hari Jumat dan Sabtu nya saya mengajar.

Tidak Pernah Punya Cita-cita Menjadi Guru

Terus terang saya tidak pernah punya cita-cita untuk menjadi guru. Selama sekolah dan diberi tugas untuk mengajar, itu semua hanya semata-mata melaksanakan kewajiban dan perintah dari orang tua. Makanya setelah lulus Madrasah Aliyah, dan mendaftar ke Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, saya tidak memilih jurusan menjadi guru. Alasannya saya ingin mencoba keluar dari dunia ngajar-mengajar, dan ingin mencoba dunia di luar pendidikan. Karena saat itu, mulai dari orang tua hingga kakak-kakak saya, semuanya mengajar. 

Saat daftar kuliah, saya memilih dua pilihan jurusan. Pertama jurusan sosiologi agama, dan pilihan yang kedua adalah jurusan jurnalistik. Akhirnya setelah melalui proses tes, saya diterima di jurusan sosiologi agama. Meskipun keinginan saya pada saat itu saya akan diterima di jurusan jurnalistik. Karena menjadi wartawan adalah salah satu cita-cita saya sejak SMA, selain menjadi seorang tentara.

Setelah Lulus Langsung Menjadi Guru

Mungkin karena darah guru yang sangat kuat yang mengalir di dalam tubuh saya, keinginan untuk punya profesi di luar guru itu tidak terwujud. Yang ada malah setelah lulus dari kuliah, saya langsung menjadi guru sekolah formal, yakni Madrasah Ibtidaiyah (MI), dimana ayah saya menjadi kepala sekolahnya. Jadi sejak lulus tahun 2005, sejak itu pula saya pertama kali menjadi guru formal Madrasah Ibtidaiyah (MI). Dan secara bersamaan saya mengajar di dua sekolah, pertama di madrasah non formal, dan yang kedua di madrasah formal.

Bisa dibayangkan bagaimana lulusan perguruan tinggi dengan gelar sarjana sosial, harus mengajar anak-anak tingkat dasar, yang seharusnya diajari oleh guru yang berkualifikasi sarjana pendidikan. Tapi itulah dunia, siapapun pasti bisa asalkan ada keinginan yang kuat. Lambat laun keinginan menjadi guru semakin kuat, dan saya terus belajar secara otodidak, serta mengikuti bintek pembelajaran, dan workshop-workshop tentang pendidikan, dengan tujuan agar tambah keilmuan tentang dunia kependidikan.

Tahun 2007 Mengajar di Tingkat Madrasah Aliyah

Setelah berjalan dua tahun  mengajar di Madrasah Ibtidaiyah, saya mulai berfikir tentang spesialis keilmuan saya, yang saya dapatkan di bangku kuliah, yakni ilmu sosiologi. Yang ada dalam pikiran saat itu adalah bagaimana saya bisa memanfaatkan ilmu sosiologi, kalau saya masih mengajar di tingkat MI, yang kita tahu di tingkat MI itu yang ada hanya guru kelas.

Atas ajakan guru saya, pada tahun 2007 saya mendapatkan kesempatan untuk mengajar di tingkat madrasah aliyah (MA). Inilah kesempatan saya untuk bisa membagikan ilmu sesuai latar belakang saya. Dan alhamdulilah sampai sekarang saya masih mengajar di tingkat madrasah aliyah dengan pelajaran yang diampu yaitu pelajaran sosiologi.

Sempat Merasakan Mengajar di Paket B dan C

Dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2012, teman saya mengajak saya untuk mengajar di sekolah paket B dan paket C. Selama enam tahun saya merasakan mengajar siswa-siswi paket B dan C, yang siswanya ada yang seumuran saya, bahkan usianya jauh lebih tua dari saya. Jadi sejak tahun 2007 saya sudah mengajar di empat tingkatan sekolah yang berbeda, yaitu di MDTA. MI, MA dan Paket.

Itulah perjalananku sebagai seorang guru. Yang ada dalam pikiranku saat ini adalah bagaimana saya bisa bermanfaat buat orang lain melalui profesi sebagai seorang guru. Sangat bahagia ketika melihat anak-anak yang pernah saya ajari, berhasil menjadi orang-orang sukses. Tidak punya keinginan untuk diingat oleh mereka.

Satu lagi yang belum tercapai adalah mengajar mahasiswa alias menjadi seorang dosen. Tapi sepertinya keinginan itu harus tertunda dulu. Tapi insyaallah suatu saat cita-cita dan impian itu bisa terwujud.

Baca Juga :







Pa Hamdan
Saya dilahirkan dari pasangan M. Atang Suminta dan Oneng Suryani... Beristrikan Endang Zoraidah ....Insya Allah diberkahi
Lebih baru Terlama

Related Posts

Posting Komentar